Kenaikkan BBM Tak Memberikan Dampak Besar Pada Penjualan Otomotif

Kenaikkan harga bahan bakar minyak jenis premium serta solar bersubsisi yang diberlakukan per tanggal 18 November 2014 kemarin sontak membuat banyak pihak bereaksi. Beberapa ada yang mempertanyakan dasar dari kebijakan tersebut yang diambil justru ketika harga minyak mentah dunia sedang turun, sementara yang lain mengkhawatirkan nasib perekonomian Indonesia terutama dalam segi industri menyangkut produksi hingga distribusi.

kenaikkan bbm di Indonesia

Namun diluar dugaan, kalangan pelaku industri otomotif yang notabene seharusnya bersentuhan langsung dengan BBM justru tak menampakan reaksi berlebihan. Meskipun mereka tidak menampik bila keputusan non populer yang diambil oleh pemerintahan baru dibawah komando Presiden Joko Widodo itu pasti akan menimbulkan dampak negatif terutama dalam hal penurunan penjualan namun imbas tersebut diyakini tak akan berlangsung lama.

Tak kurang dari Gabungan Industri kendaraan Bermotor Indonesia yang merupakan asosiasi pelaku bisnis otomotif negeri ini menyatakan naiknya harga BBM bersubsidi mungkin akan sedikit menimbulkan guncangan pada pasar dimana tentu saja akan ada penurunan penjualan untuk sejumlah produk tertentu, namun koreksi tersebut hanya akan berlangsung sesaat diawal saja dan tidak terlampau besar seperti yang dikhawatirkan selama ini.

Pernyataan diatas ditegaskan oleh Sudirman MR selaku Ketua Umum Gaikindo saat ditemui di Kementertian Perdagangan, jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta hari Senin, 24 November 2014 kemarin dimana menurut beliau penurunan tersebut hanya akan berlangsung singkat yakni selama 1 sampai 2 bulan saja dengan tingkat degradasi berkisar direntang 10 – 15 persen artinya tak terlampau signifikan dan masih sesuai dengan margin batas target yang telah ditetapkan.
Bila prediksi tersebut benar adanya, maka dunia otomotif nasional akan kembali normal pada awal tahun 2015 mendatang. Sidirman yakin bila penjualan kendaraan bermotor khususnya roda empat di tahun depan tidak akan berbeda jauh dengan tahun ini yakni berkisar diangka 1,2 juta unit. Hasil itu setelah mengkalkulasi semua faktor termasuk nilai tukar mata uang Rupiah terhadap kurs asing, suku bunga hingga angka inflasi.

Tak hanya ditingkat pusat, didaerah pun para penggiat bisnis otomotif juga terlihat cukup santai menghadapi situasi ini. Salahs atu tanggapan paling obyektif diungkapkan oleh Ketua Masyarakat Otomotif Surakarta atau MOST, Ibnu R Shahroer bahwa naiknya harga bahan bakar bersubsidi bukan hanya terjadi kala ini saja namun telah terjadi beberapa kali. Belajar dari pengalaman itu nampaknya industri ini tetap akan mampu bertahan meski harus mengalami penurunan penjualan dan tingginya biaya produksi maupun distribusi.

Memang akan ada fenomena dimana masyarakat akan terkena shock sesaat dan menunda untuk sementara waktu keinginan memiliki kendaraan pribadi, namun begitu mereka dapat beradaptasi kondisi pasar akan kembali berjalan seperti sedia kala. Bila ada perubahan mungkin hanyalah pada trend dimana jenis kendaraan berkapasitas mesin kecil atau sedang akan lebih diminati.

Selain karena jauh lebih irit mengkonsumsi BBM, model kendaraan seperti itu biasanya lebih terjangkau dibanding mobil ber cc besar dimana biasanya digolongkan sebagai barang mewah. Karena itulah maka jenis mobil murah dan hemat bahan bakar justru dapat menikmati kondisi ini akibat perubahan perilaku konsumen.

Mobil seperti Honda Mobilio dari segmen low MPV maupun Brio Satya dari kelas LCGC diprediksi semakin menjadi primadona serta menguasai market share dalam bursa otomotif nasional. Selain berharga terjangkau kedua produk tersebut juga telah diakui akan tingkat efisiensi bahan bakar yang lebih baik dibanding rival lain dikelasnya.
Khususnya MPV Honda Prospect Motor itu diyakini akan kian menebar ancaman dikelasnya yang dikenals ebagai segmen prestisius dengan tingkat persaingan paling ketat di tanah air. Seperti diketahui sejak diluncurkan awal tahun 2014 lalu, mobil keluarga 7 penumpang telah menjadi rising star dalam dunia automotive dalam negeri, bahkan kini Mobilio menyalip penjualan Suzuki Ertiga yang sebelumnya digadang gadang akan menjadi kekuatan baru di segmen LMPV.

HPM Tegaskan Penurunan Akibat Kenaikan BBM Hanya Sementara

HPM sendiri sebagai salah satu APM kendaraan roda empat terkemuka dinusantara bahkan telah berulang kali menegaskan bila kondisi ini justru dapat berdampak positif terhadap performa penjualan mereka terutama untuk sejumlah produk low entry hingga medium level product layaknya Mobilio, New Brio hingga sang penguasa sekaligus pionir kebangkitan era compact hatchback yakni All New Jazz.

Lebih jauh lagi, perwakilan Honda divisi Indonesia itu melalui salah satu petingginya Yosep Swasono Agus mengungkapkan ketidak setujuannya bila ada yang menganggap pemangkasan subsidi bahan bakar sebagai ancaman yang dapat mematikan industri perotomotifan dalam negeri. Yosep manambahkan bila saat ini kendaraan pribadi khususnya mobil sudah bisa dipandang sebagai sebuah kebutuhan dan menjadi bagian dari gaya hidup sehari hari masyarakat modern. Pelaku industri, imbuh Yosep, justru seharusnya memandang situasi yang terjadi sebagai sebuah opportunity atau kesempatan untuk lebih concern mengembangkan serta menghadirkan model produk yang lebih efisien serta ekonomis namun tetap handal juga tangguh dalam performa, stylish dan elegan dalam penampilan sekalugus aman dan nyaman bagi para pengendara maupun penumpangnya.

Mobilio dianggap contoh tepat untuk mewakili jenis kendaraan yang paling sesuai untuk kondisi saat ini. Dibekali mesin berkapasitas 1,5L 16 valve yang telah dilengkapi teknologi i-VTEC SOHC serta drive by wire membuat mobil ini tak hanya mampu mengeluarkan tenega besar hingga mencapai 118 ps / 6.600 rpm dengan torsi diangka 145 Nm pada 4.600 rpm namun juga sangat responsif dimana MPV ini dapat berakselerasi dari titik diam hingga 100 kmpj hanya dalam tempo 6 detik saja.

MPV yang ditawarkan dalam type S dan E M/T, E CVT serta Mobilio RS dan Prestige itu juga telah terbukti tingkat keiritannya. Baru baru ini HPM melakukan uji hemat flagship barunya itu dalam acara bertajuk Wisata Plus Honda Mobilio Tantangan Hemat 20 km/liter menempuh rute sejauh 55 kilometer dari Kelapa Gading, Jakarta Utara menuju Taman Budaya Sentul dengan batas waktu maksimal 90 menit.

Dalam tes yang dilakukan tanggal 15 November kemarin itu diikuti oleh 24 peserta terdiri dari pengguna, calon konsumen serta media untuk menguji tingkat efisiensi mobil ini dengan menghitung rekaman pada panel MID mobil ini. Hasilnya didapat bahwa Honda Mobilio mampu menempuh jarak sejauh 23,7 km untuk setiap liter bensinnya.

Lebih jauh lagi, manufaktur berlambang H itu mengatakan sejatinya kenaikan harga BBM bukanlah hal yang perlu terlalu dibesar besarkan karena kendaraan baru terutama dengan masa produksi diatas tahun 2008 memang selayaknya menggunakan bahan bakar dengan kadar oktan diatas 90 yang artinya tak termasuk bahan bakar bersubsidi. HPM tetap optimis bahkan bulan lalu APM memamerkan HR-V di Kota Surabaya pada event POS 2014. Crossover ini juga dipreduksi akan menjadi bintang baru dalam kancah bursa otomotif nasional ditahun 2015 mendatang.

Baca juga :
honda U finance